Banner Disway Award 2025

Ketua Komisi IV Nilai Perlindungan Anak di Cianjur Belum Berjalan Optimal

Ketua Komisi IV Nilai Perlindungan Anak di Cianjur Belum Berjalan Optimal

Ilustrasi-kekerasan terhadap anak. (Foto: Freepik)--

CIANJUR,CIANJUREKSPRES.DISWAY.ID - Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Cianjur, Rian Purwa Wiwitan menilai persoalan kekerasan anak harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan, khususnya pemerintah daerah yang membidangi perlindungan perempuan dan anak.

Menurutnya, kasus sodomi, kekerasan terhadap anak, dan tawuran pelajar yang terus terjadi menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam sistem perlindungan anak di Cianjur.

“Ini harus menjadi perhatian besar di Kabupaten Cianjur. Selain kekerasan pada anak, ada juga masalah sodomi dan tawuran pelajar yang jumlahnya masih cukup banyak. Ini menandakan upaya perlindungan anak belum berjalan optimal, terutama dari sisi pencegahan,” tegasnya Rian kepada Cianjur Ekspres, Senin 2 Februari 2026.

Dia mengatakan, selama ini pemerintah daerah dan lembaga terkait masih terlalu fokus pada penanganan setelah kejadian, bukan pada langkah-langkah antisipatif.

BACA JUGA:Disdikpora Cianjur Pastikan Pelajar Terlibat Tindak Kekerasan Dapat Pendampingan

BACA JUGA:Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Cianjur Naik Signifikan

“Yang harus digalakkan itu bukan hanya penanganannya, tapi pencegahannya. Sampai sekarang kami juga belum melihat program kerja yang jelas agar pencegahan ini bisa berjalan maksimal,” katanya.

Oleh karenanya, Komisi IV mendorong agar lembaga dan bidang yang menangani perlindungan anak di Kabupaten Cianjur dapat bekerja lebih maksimal, terutama dalam memperkuat sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat.

“Kami ingin mendorong agar bidang perlindungan anak bisa bekerja lebih maksimal. Ke depan kami juga akan berkomunikasi dan berdiskusi supaya sosialisasinya bisa ditingkatkan,” ujar Rian.

Dia menambahkan, maraknya kekerasan terhadap anak dan tawuran pelajar menjadi indikator bahwa fungsi pencegahan belum berjalan dengan baik. Bahkan, kondisi tersebut seolah menunjukkan bahwa kekerasan dan tawuran telah menjadi pola yang terus berulang tanpa penanganan akar masalah.

BACA JUGA:Menteri PPPA Dorong Optimalisasi Program Makan Bergizi Gratis untuk Gizi Anak dan Pemberdayaan Perempuan

BACA JUGA:10 Anak di Cianjur Diduga Jadi Korban Pencabulan

“Faktanya masih banyak kasus kekerasan pada anak dan tawuran. Artinya fungsi pencegahan ini belum maksimal dan masih terlalu fokus pada penanganan setelah kejadian,” ucapnya.

Rian menekankan, pentingnya pendekatan pencegahan melalui sosialisasi dan pendidikan, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat secara luas. Dia juga menyoroti peran orang tua yang dinilai harus lebih aktif dalam melakukan pengawasan terhadap anak.

Sumber: