Cegah Dampak Kekeringan, DTPHP Cianjur Siaga Hadapi El Nino 2026
Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Cianjur di Jalan Raya Bandung. (Foto: Cianjur Ekspres / Moch. Nursidin)--
CIANJUR,CIANJUREKSPRES.DISWAY.ID - Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Cianjur mulai meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi musim kemarau panjang, yang diperkirakan terjadi pada pertengahan hingga akhir tahun 2026.
Langkah antisipasi dilakukan menyusul prediksi adanya fenomena El Nino yang berpotensi memicu kekeringan di sejumlah wilayah pertanian.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP Kabupaten Cianjur, Dandan Hendrayana, mengatakan, berdasarkan prakiraan badan meteorologi, wilayah Pulau Jawa termasuk Jawa Barat diprediksi mengalami musim kemarau dengan tingkat kekeringan lebih tinggi dibanding kondisi normal.
“Awal musim kemarau di Jawa Barat diperkirakan berlangsung bertahap sejak April dan mulai meluas pada Mei hingga Juni. Sedangkan puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026,” kata Dandan, kepada wartawan belum lama ini.
BACA JUGA:Sekretaris DTPHPKP Cianjur Monitoring Pelaksanaan Program TA 2025
BACA JUGA:DTPHPKP Cianjur Monitoring dan Evaluasi Cadangan Pangan Pemerintah Daerah
Dia menjelaskan, peluang munculnya kembali fenomena El Nino pada semester kedua tahun ini diperkirakan mencapai 50 hingga 60 persen. Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada ketersediaan air bagi lahan pertanian, terutama saat memasuki periode Juli hingga September.
Menurutnya, sebagian besar zona musim di Indonesia diprediksi mengalami kemarau lebih panjang, sehingga sektor pertanian harus melakukan langkah adaptasi sejak dini agar produksi pangan tetap terjaga.
Sebagai upaya mitigasi, DTPHPKP Cianjur mulai menyiapkan sejumlah strategi, mulai dari optimalisasi jaringan irigasi, pembangunan embung, hingga penyediaan sumur dangkal di wilayah rawan kekeringan.
Selain itu, pompanisasi dan sistem perpipaan juga akan disiagakan untuk membantu distribusi air ke lahan pertanian yang membutuhkan pasokan tambahan selama musim kemarau berlangsung.
BACA JUGA:Sebanyak 1.077 KK di Desa Waringinsari Cianjur Terima Bantuan Pangan
BACA JUGA:Damkar Cianjur Siaga 24 Jam Hadapi Musim Kemarau dan Antisipasi Kebakaran
“Kami menyiapkan langkah teknis agar kebutuhan air pertanian tetap terpenuhi, khususnya di daerah yang selama ini rawan mengalami kekeringan,” ujar Dandan.
DTPHP juga mendorong petani untuk mempercepat masa tanam di wilayah potensial serta menggunakan varietas padi tahan kekeringan atau genjah, seperti Inpari 38 hingga Inpari 46, Pajajaran, Cakrabuana, dan Situpatenggang.
Di sisi lain, petani juga diimbau memanfaatkan pupuk organik maupun kompos jerami guna menjaga kelembapan tanah selama musim kemarau.
Dandan menegaskan, pengaturan pola tanam menjadi faktor penting untuk mengurangi risiko gagal panen. Petani diminta menghindari masa tanam padi sawah pada puncak kemarau, terutama Juli dan Agustus, karena berisiko tinggi mengalami puso akibat kekurangan air.
BACA JUGA:BMKG Sebut Musim Kemarau di Jawa Barat Diprediksi Berlangsung Lebih Kering
BACA JUGA:Pemkab Cianjur Siapkan Irigasi dan Sarana Pertanian, Antisipasi Hadapi Musim Kemarau
“Koordinasi seluruh petugas lapangan, UPTD pertanian, dan penyuluh sangat diperlukan agar dampak musim kemarau panjang terhadap produksi pangan di Kabupaten Cianjur dapat ditekan semaksimal mungkin,” katanya.
Sumber: