SMK Mendunia: Program 3+1 Perluas Kesempatan Kerja di Mancanegara

SMK Mendunia: Program 3+1 Perluas Kesempatan Kerja di Mancanegara

Ilustrasi Siswa SMK - Peta lulusan karier SMK tidak hanya berhenti di kawasan industri lokal, tetapi juga industri global. (Foto: Kemendikdasmen.go.id) --

JAKARTA,CIANJUREKSPRES.DISWAY.ID - Perkembangan dunia kerja yang semakin dinamis perlu diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang memadai dan berkompeten. Setiap waktu permintaan tenaga kerja yang berkompeten kian meningkat khususnya di negara-negara maju, seperti Jepang, Korea, Jerman, dan negara Timur Tengah. 

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Tatang Muttaqin, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan refleksi perubahan besar dalam cara memandang pendidikan kejuruan. Peta lulusan karier SMK tidak hanya berhenti di kawasan industri lokal, tetapi juga industri global. 

Menurutnya, saat ini banyak negara kekurangan tenaga kerja karena usia produktif di negara-negara maju tidak bisa memenuhi permintaan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan. Sementara itu, Indonesia sedang mengalami bonus demografi di mana jumlah anak muda usia produktif yang melimpah. 

“Pertanyaannya apakah kompetensinya siap mendunia. Di sinilah pendidikan vokasi memegang peran penting. Jangan minder jadi anak SMK karena dunia hari ini tidak hanya mencari orang pintar, tetapi juga orang terampil, disiplin, dan mau belajar. Masa depan bukan milik mereka yang paling banyak teori, tapi milik mereka yang siap beradaptasi dan berani melangkah ke luar batas,” ucap Dirjen Tatang dalam webinar yang bertajuk “SMK Berani Mendunia Sekolah di Indonesia Berkarier di Dunia” yang dilaksanakan pada Jumat 29 Mei 2026.

BACA JUGA:Kemendikdasmen Tekankan Pendekatan Humanis demi Ciptakan Sekolah Aman

BACA JUGA:Kemenag dan Ombudsman Perkuat Pengawasan Penerimaan Murid Baru Madrasah

Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, Kemendikdasmen telah melepaskan lebih dari tiga ribu lulusan SMK untuk bekerja ke berbagai negara. Angka tersebut merupakan bukti bahwa dunia percaya pada kualitas lulusan pendidikan vokasi di tanah air. 

Dirjen Tatang mengajak semua pihak untuk bersatu padu membangun ekosistem pendukung yang solid demi membuka akses informasi dan menyiapkan mental yang kuat bagi anak-anak SMK sehingga mampu bersaing di tingkat global.

“Mereka adalah bukti nyata bahwa SMK mendunia bukan slogan semata. Jangan pernah membatasi cita-citamu. Kuasai teknologi, kuasai bahasa asing, jaga integritas serta kuatkan karaktermu karena walau kalian belajar di Indonesia di luar sana sedang menanti karya terbaik anak-anakku sekalian,” katanya.

Sementara itu, Direktur Sekolah Menengah Kejuruan, Arie Wibowo Khurniawan, menjelaskan bahwa program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK 3+1 yang diatur dalam Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 64 Tahun 2026 memberikan fleksibilitas kurikulum yang adaptif sesuai dengan kebutuhan negara tujuan. Program ini membantu SMK untuk menyiapkan penguasaan kompetensi inti di tahun 1–3 dan tambahan 1 tahun untuk penguasaan bahasa asing, penguasaaan kompetensi sesuai standar negara tujuan, penguasaan fisik dan mental, dan literasi hukum dan keuangan. 

BACA JUGA:Bahasa Daerah Jangan Punah, Harus Hidup di Sekolah dan Ruang Digital

BACA JUGA:Pendaftaran Sekolah Maung Resmi Dimulai, Masyarakat Bisa Akses Sistem Secara Online

“SMK menjadi strategi yang tepat digunakan untuk memastikan bonus demografi bisa dilakukan dengan baik. Kita memastikan bahwa mulai dari pembelajaran, pemberangkatan harus diimbangi dengan kemampuan keterampilan. Peluang kerja luar negeri bagi lulusan SMK sangat besar, tetapi harus dijawab dengan kesiapan bahasa, kompetensi, sertifikasi, dan perlindungan,” jelasnya. 

Kemendikdasmen melalui Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan pun telah menyiapkan pilar transformasi SMK mendunia sekaligus peta jalannya. SMK mendunia dibangun melalui pilar yang saling terhubung, mulai dari tata kelola SMK, kurikulum, kemitraan, dan layanan kesiswaan. 

Sumber: