Wamen Atip: Pengembangan AI Harus Berpijak pada Nilai Keagamaan dan Kemanusiaan
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat.(Foto: Kemendikdasmen.go.id)--
DEPOK,CIANJUREKSPRES.DISWAY.ID - Bertepatan dengan momentum Hari Lahir Pancasila, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, memberikan orasi ilmiah dalam acara Wisuda Sekolah Tinggi Agama Islam Persatuan Islam (STAI Persis), di Depok, Jawa Barat, Senin (1/6/2026).
Dengan tajuk Membangun Peradaban Berbasis Etika Menakar Peluang dan Tantangan Masa Depan Bagi Sarjana Muslim, Wamen Atip mengajak kepada seluruh civitas akademika STAI Persis dan para wisudawan untuk memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) sebagai penguat kapasitas intelektual, khususnya di bidang keilmuan agama Islam.
Dalam orasinya, Wamen Atip turut menyoroti kemudahan akses informasi yang ditawarkan oleh AI. Menurutnya, banyak kekhawatiran yang muncul bahwa AI dapat menggeser peran strategis keilmuan agama, khususnya bidang pembuatan fatwa dan kajian keagamaan.
“AI sejatinya tidak dapat menggantikan kedalaman ilmu dan kepasitas intelektual manusia. Kehebatan otak manusia tetap menghasilkan kualitas terbaik dengan kemampuan berfikir kritis dan kreatifitas,” ungkap Wamendikdasmen, Atip.
BACA JUGA:Sekda Cianjur Tekankan ASN Adaptif Gunakan Teknologi AI
BACA JUGA:Warga Cianjur Sukses Ciptakan Motor Berbasis Teknologi AI
Pada konteks perguruan tinggi Islam, Wamen Atip menilai AI perlu dipandang sebagai keterampilan yang harus dikuasai oleh seluruh sivitas akademika. Baginya, kemudahan informasi melalui AI dapat dimanfaatkan untuk kemanfaatan ilmu pengetahuan Islam yang berguna untuk masyakarat.
“Tantangan saat ini adalah bagaimana kita harus memperkaya data dan informasi tentang keislaman di AI, agar hal tersebut bukan hanya sebagai ilmu, tetapi menjadi sumber inspirasi. Tentunya perlu upaya kolektif untuk memperkaya basis pengetahuan digital dengan informasi yang akurat mengenai pemikiran, tradisi, dan khazanah keilmuan Islam, termasuk kontribusi organisasi-organisasi Islam di Indonesia,” papar Wamen Atip.
Di sisi lain, Wamen Atip memandang ilmu keislaman harus terus dikembangkan agar tidak berhenti pada tataran normatif semata. Perguruan tinggi Islam dijelaskannya harus menjadikan nilai-nilai Islam sebagai sumber inspirasi lahirnya ilmu yang mampu beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat modern, termasuk di bidang ekonomi, teknologi, sosial, dan kebijakan publik.
“Keberhasilan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teknologi, tetapi juga oleh kemampuannya memanfaatkan waktu dan menghasilkan kreativitas. Oleh karena itu, lembaga pendidikan Islam memiliki tanggung jawab besar untuk melahirkan ilmu yang bermanfaat, inovasi yang berdampak, serta memastikan bahwa perkembangan teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan keislaman,” pungkasnya.(Kemendikdasmen.go.id)
Sumber: