Vaksin Dengue mRNA Pertama di Dunia Dikembangkan Indonesia-Tiongkok

Vaksin Dengue mRNA Pertama di Dunia Dikembangkan Indonesia-Tiongkok

Peluncuran resmi purwarupa (prototype) Vaksin Dengue Tetravalen Berbasis mRNA di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (8/7). (Foto: kemenkes.go.id)--

JAKARTA,CIANJUREKSPRES.DISWAY.ID - Teknologi messenger RNA (mRNA) yang sebelumnya dikenal luas sebagai platform pengembangan vaksin COVID-19 kini dimanfaatkan untuk mengembangkan vaksin demam berdarah dengue (DBD). Pengembangan ini menjadi langkah perdana dalam sejarah dunia kedokteran yang menerapkan teknologi mRNA untuk melawan virus dengue.

Terobosan tersebut ditandai dengan peluncuran resmi purwarupa (prototype) Vaksin Dengue Tetravalen Berbasis mRNA di Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (8/7). Vaksin ini dikembangkan menggunakan materi genetik (gen preM-E) virus dengue strain asli Indonesia melalui kolaborasi riset antara Universitas Indonesia (UI), Tsinghua University, Tiongkok, dan PT Etana Biotechnologies Indonesia.

Peluncuran purwarupa dilakukan secara bersama-sama oleh Menkes Budi Gunadi Sadikin; Rektor UI Heri Hermansyah; Vice President Tsinghua University Prof. Wu Huaqiang; Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie; Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria; serta Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar.

Momentum ini menjadi tonggak penting bagi kemandirian industri vaksin nasional. Jika berhasil, produk ini akan menjadi vaksin mRNA pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah, sekaligus menjadi antigen ke 6 yang mampu diproduksi Indonesia dari hulu ke hilir.

BACA JUGA:Menkes Ajak Gen Z Biasakan Konsumsi Pangan Lokal Lewat

BACA JUGA:Menkes Ajak Masyarakat Manfaatkan Cek Kesehatan Gratis untuk Cegah Penyakit Mematikan

"Kalau ini berhasil, ini akan menjadi salah satu vaksin baru yang diproduksi di Indonesia dengan teknologi paling mutakhir. Kita harus berterima kasih kepada para peneliti Indonesia yang sudah mampu setara dengan peneliti dunia," ujar Menkes Budi.

Inisiatif percepatan ini menjadi buah pembelajaran dari masa pandemi COVID-19, saat Indonesia tidak memiliki akses terhadap kebutuhan medis darurat seperti vaksin, alat terapeutik, dan diagnostik. Menkes Budi menjelaskan, sejak periode 2020-2022 pemerintah bertekad membangun fasilitas riset sendiri. Dari semula hanya ada satu perusahaan vaksin, kini Indonesia memiliki empat perusahaan, yaitu Bio Farma, Biotis, Etana, dan JBio.

Dari 16 jenis antigen yang dibutuhkan untuk program imunisasi rutin nasional, saat ini baru 11 antigen yang sudah mampu diproduksi lokal, dimana  terdapat 5 antigen yang diproduksi secara mandiri dari hulu mulai riset, pembuatan bibit vaksin, hingga manufaktur. Sementara 6 antigen lainnya masih sebatas proses perakitan (assembly) atau formulasi akhir karena bahan bakunya masih diimpor dari Tiongkok dan India.

"Target saya, sebelum tahun 2030, ke-11 antigen sisanya harus bisa kita produksi utuh dari hulu ke hilir," kata Menkes.

BACA JUGA:Wamenkes: Obesitas Tingkatkan Risiko Diabetes hingga Komplikasi Mematikan

BACA JUGA:Kemenkes Siapkan Aturan Kemasan Rokok Seragam untuk Lindungi Generasi Muda

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Stella Christie, mengungkapkan bahwa dirinya saat masih berstatus profesor mempertemukan tim peneliti UI dengan Profesor Zhang Linqi dari Tsinghua University, salah satu ahli vaksin terkemuka di dunia.

"Hampir semua vaksin manjur di dunia lahir dari riset di universitas. Model kerja sama seperti ini penting; kita tidak menandatangani MOU dulu baru bekerja, tapi justru mulai bekerja bersama secara sungguh-sungguh terlebih dahulu, baru MOU menyusul. Analisis kebutuhan, dukungan anggaran, dan komitmen kementerian, semuanya harus berjalan bersama," ungkapnya.

Sumber: