Usut Tuntas Dugaan Korupsi Paket Sembako Pemkab Cianjur

Usut Tuntas Dugaan Korupsi Paket Sembako Pemkab Cianjur

Cianjurekspres.net - Sejumlah aktivis antikorupsi meminta agar dugaan penyelewengan dana bantuan sosial berbentuk sembako dari Pemerintah Kabupaten Cianjur diusut tuntas. Selain terkesan dipaksakan dalam suatu pencarian anggaran, juga ditemukan dugaan korupsi dalam pengadaannya. Ketua LSM Pemuda Cianjur, Galih Widyaswara, mendorong agar aparat penegak hukum (APH) mengusut tuntas dugaan penyelewengan dana bansos berbentuk sembako pada pencairan tahap II di 29 Mei 2020. Sebab, banyak sekali keganjilan dalam pengadaan barang bahan pangan. "Kami menemukan banyak keganjilan soal pencairan dana bansos sembako ini. Sebab, pada hari yang sama (29 Mei, red) pencairan bisa dilakukan berserta pembelanjaan barang dan pendistribusian. Intinya, pencairan dana, belanja barang, dan pendistribusian dilakukan pada hari yang sama. Ini jelas terkesan dipaksakan," kata dia kepada Cianjur Ekspres, Rabu (3/6/2020). Baca Juga: Pencairan Dana Bansos Tahap II Pemkab Cianjur di Hari Terakhir Tanggap Darurat, Ada Apa? Sedangkan, lanjut dia mengatakan, ada pula dugaan penyelewengan dana bansos sembako ini. Pasalnya, satu penerima bantuan atau satu paket sembako dianggarkan Rp150 ribu. Di antaranya mendapatkan beras 5 kilogram, minyak goreng bermerek 2 liter, sarden 1 kaleng 425gram, dan mie instan 15 bungkus. Dia menyebut, harga bahan pangan tersebut diduga tidak akan mencapai Rp150 ribu per paket. Jika harga beras medium di kisaran Rp9.500 per kilogram x 5 kilogram berarti Rp47.500, harga minyak goreng bermerek 2 liter Rp22 ribu, sarden 425gram di kisaran Rp18 ribu tingkat eceran, dan mi instan 15 bungkus x Rp2.500 berarti Rp37.500. Jika dijumlah secara keseluruhan hanya Rp125.000 per paket, berarti ada selisih Rp25 ribu per paket. Selisih Rp25 ribu itu tinggal dikalikan 86.820 penerima, berarti ada dugaan kerugian negara sekitar Rp2.170.500.000 pada pembagian sembako tahap kedua ini. Namun, jika ditambahkan lagi dengan tahap pertama sebanyak 6.500 penerima, yang berpotensi merugikan negara sekitar Rp162.500.000, jadi jumlah keseluruhan dugaan kerugian negara mencapai Rp2.333.000.000 untuk 93.320 penerima. "Oleh karenanya, aparat penegak hukum harus mengusut tuntas pengadaan paket sembako ini yang terkesan dipaksakan," bebernya. Galih menilai, selain berpotensi merugikan negara dan dugaan menjadi ajang bancakan juga ada unsur dugaan kepentingan politik. Sebab, tahun ini merupakan momen dimana Kabupaten Cianjur akan menyelenggaran Pilkada serentak pada akhir tahun nanti. "Kami akan segera membuat laporan soal dugaan korupsi pada paket sembako ini. Karena uang yang dipakai untuk paket sembako sangat besar mencapai Rp13.998.000.000 dengan jumlah penerima 93.320 keluarga pada tahap satu dan kedua," tegasnya. Sementara itu LSM Barak Cianjur, Iwan Setiadi, menuturkan, dalam pengadaan bantuan sosial berbentuk sembako ini tidak ada yang salah. Hanya teknis pelaksanaan dan tidak adanya keterbukaan soal anggaran. "Kalau masalah pemberian bantuan paket sembako yang dilakukan Pemkab Cianjur, saya sangat apresiasi, tapi dalam hal ini tentunya harus ada keterbukaan publik asal usul pengadaan dana bansos tersebut," kata Iwan. Iwan mengatakan, selama ini pihaknya selalu mengikuti dan memantau informasi yang ada di lingkungan Pemkab Cianjur. "Saya selalu memantau dan mengikuti informasi yang ada, terlebih adanya kekisruhan berkaitan dengan anggaran bansos," ujarnya. Baca Juga: Herman Gelengkan Kepala Lihat Mega Proyek Terbengkalai di Campaka Cianjur Terpisah, Ketua Gibas Resort Cianjur, Yudi Dharmawan mengaku, perkembangan di Kabupaten Cianjur ini terbilang monoton terlebih dengan adanya pandemi Covid-19. "Kalau saya perhatikan, Cianjur sekarang jalan di tempat, kenapa? Karena belum ada perubahan yang signifikan terlebih pada pembangunan," kata Yudi. Berbicara APBD, lanjut Yudi, tak sedikit anggaran dari berbagai OPD yang ada semuanya dipangkas terkecuali anggaran Dinkes. Hal tersebut tentu dilakukan untuk penanganan Covid-19 yang pada kenyataannya tidak berjalan dengan maksimal. Salah satunya, dengan adanya pemberian bantuan Covid-19 dari APBD ke ribuan warga miskin baru. "Saat ini kurang lebih ada 300 ribu warga miskin di Cianjur, apakah dengan adanya bansos tersebut sebagai solusi. Karena fakta di lapangan masih banyak warga miskin yang sebenarnya malah tidak mendapatkan jatah bantuan," jelasnya. Ketua Tim Advokasi Rakyat Cianjur, Andi Syarif Hidayatuloh menilai permasalahan yang ada saat ini di lingkungan Pemkab Cianjur terbilang sangat krusial. "Saya berpikir sekarang ini permasalahan di Pemkab khususnya bansos tahap II, Dewan Cianjur sudah seharusnya turun langsung dan membentuk Pansus untuk menyikapi permasalahan anggaran bansos tahap II tersebut," pungkasnya.(*/yis/red) INFOGRAFIS Anggaran Paket Sembako Tahap I-II diperkirakan mencapai Rp13.998.000.000 untuk 93.320 penerima. *Penerima Bantuan Sembako Tahap I = 6.500 keluarga/paket *Penerima Bantuan Sembako Tahap II = 86.820 keluarga/paket Total Penerima = 93.320 keluarga/paket Estimasi pengeluaran anggaran dana bansos sembako: *) Tahap I 6.500 paket x Rp150.0000 = Rp975.000.000 *) Tahap II 86.820 paket x Rp150.000 = Rp13.023.000.000 Total Anggaran Tahap I + Tahap II = Rp13.998.000.000 Nilai Bansos Rp150 ribu dalam bentuk sembako Estimasi harga: *) Beras 5 kilogram = Rp47.500 *) Minyak goreng 2 liter = Rp22.000 *) Sarden 1 kaleng 425gr = Rp18.000 *) Mi instan 15 bungkus = Rp37.500 Total Belanja = Rp125.000 Selisih = Rp25.000 Estimasi Dugaan Kerugian Negara 1) Selisih (Rp25.000) x 93.320 penerima = Rp2.333.000.000 2) Tahap I - 6.500 penerima kerugian negara diperkirakan mencapai Rp162.500.000 3) Tahap II - 86.820 penerima kerugian negara diperkirakan mencapai Rp2.170.500.000.

Sumber: