BP Mektan Launching Model Konversi Energi Panel Surya dan Turbin Angin

BP Mektan Launching Model Konversi Energi Panel Surya dan Turbin Angin

Cianjurekspres.net - Balai Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BP Mektan) Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Provinsi Jawa Barat membuat inovasi pembangkit energi terbarukan (renewable energy) untuk mendukung pengembangan pertanian yang berwawasan lingkungan dengan melaunching model konversi energi panel surya dan turbin angin, Kamis (14/10/2021). Inovasi tersebut dilaunching langsung oleh Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Provinsi Jawa Barat, Dadan Hidayat disaksikan Kepala BP Mektan, Teguh Khasbudi. "Terus terang sangat mengapresiasi sekali apa yang sudah dikerjakan dengan membuat inovasi alat pengubah energi untuk mendukung pertanian berkelanjutan dan ramah terhadap lingkungan," kata Kepala DTPH Provinsi Jawa Barat, Dadan Hidayat. "Energi ini akan dimanfaatkan nantinya menjadi tenaga penggerak alat mesin pertanian. Betapa kreatifnya, bersumber bahan baku dari alam, matahari dan angin. Mudah-mudahan memberikan manfaat bagi masyarakat petani tidak hanya di Jawa Barat, tapi di Indonesia," sambungnya. Menurut Dadan, inovasi yang diciptakan BP Mektan harus diterapkan karena tenaga surya sudah ada tetapi untuk energi angin kelihatannya baru. Sementara itu Kepala BP Mektan, Teguh Khasbudi mengatakan, dengan potensi sumber daya alam dan aspek geografis yang dimiliki Jawa Barat banyak daerah-daerah yang mempunyai potensi energi seperti angin. Dijelaskannya, panel surya dapat mengkonversikan langsung radiasi sinar matahari menjadi energi listrik (proses photovoltaic). Agar energi surya dapat digunakan pada malam hari, maka pada siang hari energi listrik yang dihasilkan disimpan terlebih dahulu ke baterai melalui charging controller. Keluaran Energi listrik langsung dihubungkan dengan inverter dari arus DC ke AC. "Hasil sementara modul surya (photovoltaic) hasil daya keluaran maksimal mencapai 48,24 Watt. Energi matahari merupakan sumber energi alternatif yang potensial dan ramah lingkungan, sehingga apabila energi ini dapat dikelola dengan baik, diharapkan kebutuhan petani dan masyarakat yang skala mikro dapat terpenuhi," kata Teguh. Sedangkan Turbin Angin, kata Teguh, adalah salah satu mesin konversi energi yang merubah energy kinetic menjadi energy mekanik sehingga terjadilah beda potensial yang menghasilkanListrik. Putaran turbin yang disebabkan oleh angin diteruskan ke rotor generator dimana generator ini memiliki lilitan tembaga yang berfungsi sebagai stator sehingga terjadinya GGL (gaya gerak listrik). "Listrik yang dihasilkan dapat disimpan ke batrai atau dimanfaatkan langsung untuk pompa Hidroponik. Untuk beberapa wilayah di Indonesia yang memiliki kecepatan angin rata-rata berkisar antara 2 hingga 5 m/s sangat cocok untuk penerapan Turbin Angin. Sehingga semakin besar gaya dorong maka efisiensi turbin juga semakin besar. Turbin angin ini menghasilkan Listrik Maksimal 45 Watt-50 Watt," ungkapnya. Teguh mengatakan, teknologi pertanian menggunakan metode hidroponik sangat cocok dikembangkan di wilayah perkotaan yang mempunyai lahan terbatas dan tenaga kerja yang sangat sedikit. Sistem yang menggunakan media tanam berupa pipa dan air yang dialirkan untuk memberikan nutrisi tanaman memerlukan tenaga pompa air terus-menerus agar tanaman dapat tumbuh dengan baik sampai bisa dipanen. "Pemanfaatan tenaga listrik dari energi baru terbarukan seperti listrik panel surya dan turbin angin ini belum terlalu banyak dimanfaatkan dalam budidaya tanaman hidroponik. Maka dalam rangka konservasi energi listrik untuk masa depan, pemanfaatan potensi energi terbarukan (renewable energy) dengan sistem model konversi energi angin dan matahari, terutama sebagai penghasil energi listrik alternatif di Jawa Barat," katanya. "Balai Pengembangan Mekanisasi Pertanian membuat inovasi untuk bahan edukasi bagi kaum milenial dengan menggunakan pembangkit energi terbarukan (renewable energy) untuk mendukung pengembangan pertanian yang berwawasan lingkungan," sambungnya.(hyt)

Sumber: