Batasi Penyaluran BBM Subsidi, Pertamina Minta Masyarakat Verifikasi Data ke MyPertamina

Batasi Penyaluran BBM Subsidi, Pertamina Minta Masyarakat Verifikasi Data ke MyPertamina

ISI BENSIN: Antrean panjang pengendara motor saat hendak membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis pertalite di SPBU wilayah Kota Bandung.-DENI ARMANSYAH/JABAR EKSPRES-

Cianjurekspres.net Pihak Pertamina mulai melakukan pembatasaan penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Langkah tersebut dilakukan mengingat BBM subsidi selama ini banyak dinikmati warga berduit alias kalangan ekonomi atas.

 Sales Brance Manager (SBM) Pertamina Rayon II Bandung, Andrew Wisnuwardhana mengatakan, naiknya harga BBM terjadi karena berbagai faktor, salah satunya oleh invasi yang dilakukan Rusia ke Ukraina.

 "Betul-betul berdampak secara global. Karena ternyata Rusia itu penghasil batu bara nomor 3 dunia, atau 15 persen dari pengekspor batu bara di dunia," kata Andrew, Senin (12/9).

 Dia melanjutkan, sebagai negara eksportir yang cukup besar di dunia, Rusia diketahui menduduki urutan nomor 2 pengekspor minyak bumi atau 11,9 persen.

 "Kemudian gas alam, Rusia ini nomor 4 dunia dengan presentase sebesar 4,8 persen," ujarnya.

 Andrew mengaku, akibat invasi Rusia ke Ukraina dampaknya bisa pada sektor perekonomian dunia termasuk berpengaruh bagi Indonesia.

 Oleh sebab itu, mengingat saat ini harga baru BBM tengah menjadi sorotan, dia mengklaim bahwa Pertamina berupaya melakukan pengendalian dalam penyaluran BBM subsidi.

 "Perlu ada pengendalian BBM subsidi, karena disparitas harga BBM bersubsidi cukup besar," ucapnya.

 Andrew menerangkan, apabila dilakukan perbandingan antara harga BBM bersubsidi dengan yang non-subsidi, perbedaannya cukup signifikan.

 "Harga setiap satu liter BBM non-subsidi itu setara dengan dua setengah liter BBM subsidi, jadi perbedaannya cukup tinggi sehingga banyak yang lebih memilih BBM bersubsidi," terangnya.

 Andrew mengakui, sempat terjadi kebocoran dalam penyalurannya, alias tak sedikit masyarakat kelangan ekonomi menengah ke atas ikut menikmati BBM subsidi.

 "Kasus-kasus penyalahgunaan BBM bersubsidi, kemudian realisasi yang terjadi di Indonesia ini dimana kuota itu saat ini sudah lewat semuanya," imbuhnya.

 "Jadi penyaluran yang dilakukan untuk bio solar kemungkinan (subsidi) kuotanya akan habis di Oktober atau November (2022)," lanjut Andrew.

 Dia menjelaskan, jika penyaluran BBM subsidi pembatasannya dilakuakan menggunakan peran operator, kebocoran sangat rawan terjadi.

 "Penyaluran BBM dan gas LPG subsidi tidak tepat sasaran itu betul, kita punya datanya 80 persen pengguna BBM subsidi tidak tepat sasaran," jelasnya.

 Melihat hal tersebut, Andrew menyampaikan, pihaknya berupaya melakukan pengendalian dalam penyaluran BBM bersubsidi melalui pemilahan konsumen.

 "Calon konsumen akan melakukan registrasi. Tidak perlu harus menggunakan aplikasi MyPertamina," imbuhnya.

 Dipaparkan Andrew, terdapat dua cara untuk melakukan registrasi sebagai konsumen yang layak untuk menerima BBM subsidi.

 "Pertama bisa registrasi ke website subsiditepat.mypertamina.id atau kedua bisa registrasi melalui aplikasi MyPertamina," paparnya.

 Dilanjutkan Andrew, pihaknya juga akan bekerjasama dengan Pemerintah Daerah terkait data-data masyarakat yang sudah masuk sebagai konsumen layak menerima BBM subsidi.

 "Setelah diverifikasi baru bisa melakukan transaksi di SPBU," tututnya.

 Kendati demikian, Andrew mengaku, untuk saat ini upaya tersebut prosesnya tengah berjalan secara bertahap, sehingga bagi masyarakat yang hendak membeli BBM ke SPBU, sistem pemilahan melalui verifikasi itu belum dilakukan.

 "Kita masih melakukan (pencatatan) Nomor Polisi, tapi kita juga mendorong agar masyarakat bisa melakukan registrasi ke MyPertamina," pungkasnya. (bas/tur)

 

 

 

Sumber: