Kepala Madrasah Diminta Perkuat Budaya Pendidikan dan Pembentukan Karakter
Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafii bersama para kepala madrasah.(Foto : kemenag.go.id)--
DEPOK,CIANJUREKSPRES.DISWAY.ID - Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI Muhammad Syafi'i mengatakan, kepala madrasah tidak hanya dituntut menjalankan tugas administratif, tetapi juga berperan membangun budaya pendidikan yang mampu membentuk generasi berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Kepala madrasah bukan hanya pemimpin administrasi, tetapi pemimpin karakter dan budaya madrasah. Karena itu, kepala madrasah bukan hanya bertugas mengelola administrasi, tetapi juga memastikan nilai-nilai karakter tumbuh dalam lingkungan madrasah. Anak belajar tanggung jawab dari pemimpin yang bertanggung jawab,” ujar Wamenag dalam Keynote Speech Pendidikan Khusus Kepala Madrasah (DIKSUSKAMAD), Jumat (28/8/2026).
Wamenag menjelaskan, penguatan pendidikan Islam perlu dilakukan dengan menempatkan nilai-nilai Islam sebagai fondasi dalam seluruh proses pendidikan.
“Pendidikan Islam bukan sekadar pendidikan yang mengajarkan agama Islam. Pendidikan Islam adalah pendidikan yang menjadikan nilai-nilai Islam sebagai fondasi dalam seluruh proses pencarian, pengembangan, pengamalan, dan pemanfaatan ilmu. Dengan kata lain, Islam bukan hanya menjadi salah satu mata pelajaran, Islam menjadi paradigma pendidikan,” jelasnya.
BACA JUGA:Kemenag Beri Apresiasi Empat Pelajar Madrasah Terpilih Jadi Paskibraka Nasional
BACA JUGA:Lindungi Anak, Wamenag Minta Madrasah Perketat Perlindungan Anak
Menurut Wamenag, integrasi ilmu tidak berarti setiap materi pelajaran harus dipaksakan memiliki keterkaitan dengan ayat Al-Qur’an.
"Nilai Islam justru perlu hadir melalui cara peserta didik memahami, menggunakan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, agama tidak hanya diajarkan pada mata pelajaran agama, tetapi hadir dalam cara berpikir dan bertindak," katanya.
“Integrasi ilmu bukan berarti setiap guru harus mengubah kelasnya menjadi ceramah agama. Bukan pula setiap rumus harus dipaksakan dicari ayatnya. Integrasi ilmu adalah integrasi cara pandang,” tambahnya.
Menurutnya, proses tersebut membuat penguasaan ilmu berjalan seiring dengan pembentukan akhlak.
BACA JUGA:Buka GALATAMA 2026, Menag Tekankan Madrasah sebagai Rumah Literasi
BACA JUGA:Kemenag Benahi Tata Kelola Data Guru Madrasah Non-ASN
“Ketika anak belajar matematika, ia belajar tentang keteraturan, ketepatan, logika, konsistensi, dan kejujuran intelektual. Ketika anak belajar fisika, ia sedang melihat keteraturan alam semesta. Ketika anak belajar biologi, ia sedang memasuki kompleksitas ciptaan Allah, dan pendidikan Islam memastikan pengetahuan tersebut melahirkan tanggung jawab,” pungkasnya.(kemenag.go.id)
Sumber: