Januari Hingga Oktober 2024, TBC di Kabupaten Cianjur Capai 6.939 Kasus

Ilustrasi-Batuk (Pixabay)--
"Pasien TB tidak boleh telat minum obat sehari pun. Kalau tidak rutin, dikhawatirkan terjadi resisten atau bakterinya jadi kebal pada obat yang diberikan sebelumnya," jelas Frida.
Saat pasien alami resisten, maka obat yang diberikan selanjutnya akan berubah menjadi TB resisten yng jumlahnya lebih banyak dan durasi pengobatan akan menjadi sangat lama.
BACA JUGA:Hujan Deras, BPBD Terima Laporan Bencana Longsor hingga Banjir di Wilayah Cianjur Selatan
BACA JUGA:Longsor di Sindangbarang Cianjur Timbun Ruko, Dua Orang Meninggal Dunia
Frida mengatakan, karena penyebaran TB cenderung sangat mudah menular karena penyebaran bakteri Mycobacterium tuberculosis dapat melalui udara atau airbone.
"Bisa lewat bersin, batuk, atau faktor airbone lainnya. Biasanya tertular pada orang terdekat lebih dulu," katanya.
Frida meminta pada para pasien yang dalam masa pengobatan untuk selalu menggunakan masker, tidak batuk dan bersin sembarangan, menjaga pola hidup sehat, dan selalu menjaha kebersihan rumahnya.
"Karena semua faktor itu sangat mempengaruhi baik penularan atau pun proses penyembuhan TB," tandasnya.
Sumber: