Banner Disway Award 2025

Hadapi Cuaca Ekstrem, Dinas TPHPKP Cianjur Siapkan Antisipasi Gagal Panen

Hadapi Cuaca Ekstrem, Dinas TPHPKP Cianjur Siapkan Antisipasi Gagal Panen

Kantor Dinas TPHPKP Kabupaten Cianjur di Jalan Raya Bandung, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur. (Foto: CIANJUR EKSPRES/Moch. Nursidin)--

CIANJUR,CIANJUREKSPRES.DISWAY.ID - Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan (TPHPKP) Kabupaten Cianjur mulai melakukan berbagai langkah antisipasi untuk mencegah gagal panen akibat cuaca ekstrem di musim hujan.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas TPHPKP Kabupaten Cianjur, Dandan Hendrayana, mengatakan, perubahan iklim menjadi faktor utama yang berpotensi memengaruhi sektor pertanian, terutama melalui ancaman banjir akibat tingginya intensitas curah hujan.

“Berkaitan dengan DPI perubahan iklim, yang paling potensial memengaruhi pertanian adalah banjir. Curah hujan di Cianjur akhir-akhir ini di atas normal, sehingga berpotensi menimbulkan dampak seperti banjir dan pergerakan tanah atau longsor,” katanya kepada Cianjur Ekspres, Selasa 3 Februari 2026.

Dandan menjelaskan, langkah antisipasi tersebut sejalan dengan imbauan Menteri Pertanian agar pemerintah daerah memperkuat upaya pencegahan, pendampingan, serta penguatan kapasitas petani dalam menghadapi dampak perubahan iklim, khususnya banjir.

BACA JUGA:Sembilan Penyuluh Pertanian di Cianjur Terima Hadiah Motor dari Kementan

BACA JUGA:Dinas TPHPKP Cianjur Sebut Alih Fungsi Lahan Pertanian Jadi Tantangan Serius

Salah satu upaya yang dilakukan yakni melalui sosialisasi dan penyuluhan kepada petani untuk mencegah dampak banjir yang lebih luas. Di antaranya dengan memperbaiki dan menormalisasi saluran pembawa agar tidak terjadi sumbatan maupun sedimentasi lanjutan pada saluran irigasi tersier.

“Dalam hal ini, kami perlu bekerja sama dengan Komisi Irigasi dan Mitra Cai untuk menormalisasi saluran-saluran irigasi, khususnya di daerah yang berpotensi mengalami banjir cukup besar,” jelasnya.

Wilayah dengan hamparan sawah luas dan jaringan irigasi besar seperti Karangtengah, Sukaluyu, Bojongpicung, Ciranjang, Cibeber, dan Cilaku menjadi prioritas pengawasan. Koordinasi antara penyuluh pertanian, Mitra Cai, dan Komisi Irigasi akan lebih diintensifkan di wilayah tersebut.

Selain itu, penjadwalan tanam juga harus mengikuti tata guna lahan dan kalender tanam yang telah ditetapkan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR). Hal ini bertujuan agar pengaturan arus air dapat berjalan optimal dan merata.

BACA JUGA:Cianjur Kehilangan 900 Hektare Lahan Pertanian, Bupati Pastikan Tak Terulang Lagi

BACA JUGA:DTPHPKP Cianjur Monitoring dan Evaluasi Cadangan Pangan Pemerintah Daerah

“Petani juga perlu dibiasakan untuk membersihkan jalur pematang sawah, terutama yang berdekatan dengan saluran pembawa. Penyempitan jalur dan saluran yang tersumbat sering menjadi penyebab air mudah meluap,” kata Dandan.

Dandan menambahkan, koordinasi lintas instansi sangat penting ketika terjadi potensi luapan air yang tinggi. Untuk daerah Cihea, koordinasi dilakukan dengan UPTD pengelola irigasi di Ciranjang, sedangkan wilayah Karangtengah dan sekitarnya berkoordinasi dengan UPTD pengairan Cianjur Kota.

Sumber: