Banner Disway Award 2025

Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Libatkan Kampus dan Industri

Pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Libatkan Kampus dan Industri

Pembahasan solusi pengolahan sampah berbasis teknologi melalui skema Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa)--

CIANJUREKSPRES.DISWAY.ID - Di tengah tantangan darurat sampah yang kian mendesak di berbagai kota besar Indonesia, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memperkuat langkah strategis dengan mendorong pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) berbasis riset dan kolaborasi lintas sektor. 

Melalui sinergi perguruan tinggi bersama industri, pemerintah menegaskan bahwa solusi pengolahan sampah masa depan harus bertumpu pada sains, teknologi, serta model yang berkelanjutan secara ekonomi dan lingkungan.

Pembahasan solusi pengolahan sampah berbasis teknologi melalui skema Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), dilakukan bersama perwakilan sejumlah perguruan tinggi luar negeri, Institut Teknologi Bandung (ITB), serta pihak dari PT Rekayasa Industri (Rekind) dalam rapat pembahasan di kantor Kemdiktisaintek, Selasa 24 Februari 2026. 

BACA JUGA:Gencarkan Sidak, Kementan Pastikan Pasokan Aman dan Harga Daging, Ayam, serta Telur Stabil Selama Ramadan

BACA JUGA:PLN Gerak Cepat Tangani Gangguan Listrik Akibat Cuaca Ekstrem di Wilayah Tanggeung

BACA JUGA:Harga Cabai dan Daging Sapi di Pasar Cipanas Cianjur Berangsur Turun

Dalam forum tersebut, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menekankan pentingnya pendekatan berbasis sains dan kajian teknis yang komprehensif agar solusi yang dihasilkan tidak hanya efektif secara teknis, tetapi juga berkelanjutan secara ekonomi dan lingkungan.

“Yang penting bagi kami adalah bagaimana desainnya berbasis hitungan yang jelas dan terukur, baik dari sisi kapasitas, biaya, maupun keberlanjutannya,” ujar Menteri Brian dikutip. 

Kemdiktisaintek memandang penguatan peran perguruan tinggi dan lembaga riset sebagai kunci dalam merumuskan model pengolahan sampah yang terintegrasi, termasuk skema kombinasi antara pengolahan skala mikro di tingkat komunitas dan fasilitas skala lebih besar yang terpusat. 

Pendekatan ini dinilai dapat meminimalkan mobilitas sampah, meningkatkan stabilitas bahan bakar turunan sampah atau Refuse Derived Fuel (RDF), serta memperkuat aspek kendali mutu dan dampak lingkungan.

Terkait sistem pengolahan terintegrasi tersebut, data menunjukkan sekitar 55 persen timbulan sampah merupakan fraksi organik. Pengolahan di tingkat awal, baik di rumah tangga maupun komunitas, dinilai strategis untuk mengurangi beban pengangkutan dan penumpukan di fasilitas akhir. 

Model ini membuka ruang kontribusi perguruan tinggi dalam menyusun perhitungan berbasis data mengenai kapasitas ideal, tipologi wilayah, serta efisiensi logistik, sehingga desain sistem dapat disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah.

Selain itu, stabilitas kualitas dan nilai kalor RDF menjadi faktor kunci agar pembangkit dapat beroperasi optimal dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, Kemdiktisaintek mendorong penguatan riset dan inovasi teknologi dalam negeri guna memastikan desain pembangkit, sistem pembakaran, serta pengendalian emisi dirancang sesuai karakteristik RDF nasional.

Diskusi juga membahas potensi pengolahan sampah menjadi energi, termasuk simulasi kapasitas dan proyeksi produksi listrik sebagai bahan kajian teknis lanjutan. Senior Advisor Transformasi Bisnis PT Rekind, Sudayat menyampaikan bahwa pendekatan berbasis pengalaman teknis menunjukkan potensi yang dapat dioptimalkan.

Sumber: