Banner Disway Award 2025

Semangat Penyandang Disabilitas Netra Belajar Al-Qur’an Braille

Semangat Penyandang Disabilitas Netra Belajar Al-Qur’an Braille

Kisah Saefudin Fajar Putra (27), siswa di Wyata Guna yang kini mulai mampu membaca Al-Qur’an Braille setelah melalui proses belajar yang penuh kesabaran. (Foto: Jabarprov.go.id)--

BANDUNG,CIANJUREKSPRES.DISWAY.ID - Perjuangan belajar tidak mengenal batas, termasuk bagi penyandang disabilitas netra. Hal itu terlihat dari kisah Saefudin Fajar Putra (27), siswa di Wyata Guna yang kini mulai mampu membaca Al-Qur’an Braille setelah melalui proses belajar yang penuh kesabaran.

Instruktur Al-Qur’an Braille, Tine Gustini, mengungkapkan, Fajar baru mempelajari Al-Qur’an Braille sekitar empat bulan. Meski awalnya tidak bisa sama sekali, kegigihan dan kesabarannya membuahkan hasil.

“Alhamdulillah sekarang Fajar sudah bisa baca tulis Al-Qur’an Braille. Barusan juga sudah dicoba membaca salah satu surat pendek,” kata Tine, Sabtu 7 Maret 2026.

Menurutnya, metode pembelajaran bagi penyandang disabilitas netra sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pembelajaran membaca Al-Qur’an pada umumnya. Para siswa tetap memulai dari Iqra, mengenal huruf hijaiyah, tanda baca hingga akhirnya membaca Al-Qur’an Braille.

BACA JUGA:Wamen Fajar Pastikan Fasilitas Belajar SMAN di Sukabumi Makin Berkualitas

BACA JUGA:PKS Cianjur Sebut Pemberdayaan Penyandang Disabilitas Belum Maksimal

Namun, ada pendekatan khusus yang diterapkan dalam proses belajar. Jika di sekolah umum pembelajaran dilakukan secara klasikal, maka bagi siswa netra metode yang digunakan lebih bersifat individual.

“Awalnya memang secara klasikal, tetapi setelah itu pembelajaran dilakukan satu per satu agar lebih fokus menyesuaikan kemampuan masing-masing siswa,” jelasnya.

Tine telah mengajar Al-Qur’an Braille selama lebih dari 20 tahun. Selama itu pula ia menghadapi berbagai tantangan, terutama ketika mengajar siswa yang baru mengalami kebutaan di usia dewasa.

“Tantangan terbesar biasanya pada kepekaan perabaan. Kalau sudah dewasa, kadang kepekaan jari untuk membaca Braille tidak sepeka yang sejak lahir. Karena itu banyak yang memilih menghafal. Tapi kalau mereka punya semangat tetap bisa belajar membaca,” ujarnya.

BACA JUGA:Gandeng Startup, Kemenperin Perluas Akses Kerja Penyandang Disabilitas di Industri

BACA JUGA:Membanggakan, Atlet Pelajar Disabilitas Cianjur Borong Enam Medali Peparpeda Jabar 2025

Meski demikian, dedikasinya selama dua dekade telah melahirkan banyak murid yang kini menjadi pengajar dan ustadz bagi sesama penyandang disabilitas netra.

“Paling mengharukan, banyak alumni dari Sentra Wyata Guna yang sekarang menjadi ustaz dan bahkan mengajar juga di sini. Mereka menjadi penerus kami,” ungkapnya.

Sumber: