Tidak Perhatikan Pesantren, Kemenag: Sama Saja Abaikan Sejarah Pendidikan Bangsa

Tidak Perhatikan Pesantren, Kemenag: Sama Saja Abaikan Sejarah Pendidikan Bangsa

Takjil Pesantren: Talkshow dan Ngaji Bareng Santri yang digelar Kementerian Agama di Pondok Pesantren Al-Karimiyah, Depok, Senin (16/3/2026). (Foto: Kemenag.go.id)--

DEPOK,CIANJUREKSPRES.DISWAY.ID - Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Amien Suyitno menyampaikan pesantren merupakan sistem pendidikan yang lahir dari tradisi masyarakat Indonesia sendiri. Karena itu, negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan keberlanjutan dan pengembangannya.

Menurutnya, karakter pendidikan pesantren berbeda dengan sistem pendidikan formal modern karena menekankan pembinaan menyeluruh melalui kehidupan berasrama.

“Pesantren adalah produk asli pendidikan Indonesia. Jika negara tidak memberi perhatian serius, maka kita sama saja mengabaikan sejarah pendidikan bangsa,” ujar Amin Suyitno saat menghadiri Takjil Pesantren: Talkshow dan Ngaji Bareng Santri di Pesantren Al-Karimiyah, Depok, Senin 16 Maret 2026.

Takjil Ramadan dihadiri Wali Kota Depok, Supian Suri. Dia menilai pesantren memiliki peran strategis dalam menjaga fondasi moral masyarakat. Menurutnya, lembaga pendidikan berbasis asrama tersebut telah lama menjadi ruang pembentukan akhlak dan karakter generasi muda.

BACA JUGA:Kemenag Gelar Sidang Isbat 19 Maret 2026, Pemantauan Hilal di 117 Titik Lokasi

BACA JUGA:Wamenag Romo Syafii Ajak Santri Jaga Kerukunan dan Merawat Masa Depan Indonesia

Ia menegaskan pemerintah daerah akan terus memperkuat dukungan terhadap keberadaan pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan yang telah berkontribusi sejak jauh sebelum Indonesia merdeka.

“Pesantren berperan besar dalam membina akhlak santri sekaligus menjaga nilai moral di tengah masyarakat. Pemerintah Kota Depok berkomitmen untuk terus hadir mendukung pengembangannya,” kata Supian.

Ia juga mengungkapkan kedekatan pribadinya dengan dunia pesantren karena pernah menempuh pendidikan sebagai santri. Pengalaman tersebut, menurutnya, menjadi bekal penting dalam perjalanan hidupnya. 

Ia menjelaskan bahwa pola pendidikan pesantren memungkinkan proses pembinaan berlangsung sepanjang waktu, tidak hanya melalui pengajaran ilmu pengetahuan tetapi juga melalui pembentukan karakter dan spiritualitas santri.

BACA JUGA:Pondok Pesantren Nurul Ittihad Takokak Cianjur Akan Gelar Pasaran Ramadan

BACA JUGA:Menag Tegaskan Madrasah Swasta Memiliki Peran Besar dalam Sistem Pendidikan Nasional

Direktur Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said, menambahkan program Takjil Pesantren dirancang sebagai ruang dialog antara pemerintah dan komunitas pesantren di berbagai daerah. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar agenda seremonial, melainkan upaya memperkuat komunikasi sekaligus menyerap aspirasi dari kalangan pesantren.

“Program ini menjadi cara Kementerian Agama menyapa langsung para santri sekaligus memperkuat hubungan antara pemerintah dan pesantren,” jelasnya.

Sumber: