JAKARTA,CIANJUREKSPRES.DISWAY.ID - Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjabarkan lima manfaat pertambahan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) 1 persen menjadi 12 persen.
Ia menyebut manfaat pertama dari kenaikan tarif PPN adalah peningkatan penerimaan negara secara signifikan. Dengan itu, fiskal negara mempunyai kemampuan yang lebih baik untuk mendanai proyek infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. “Menurut sejarahnya, PPN telah menjadi salah satu sumber pendapatan utama negara dan lebih tahan terhadap perubahan ekonomi daripada pajak penghasilan yang bergantung pada laba bisnis,” ujarnya saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Kamis 21 November 2024. Manfaat kedua yaitu potensi mengurangi defisit anggaran dan ketergantungan pada utang, terutama setelah pengeluaran pemerintah yang meningkat selama pandemi. BACA JUGA:Kemenkeu Sambut Pembayaran Modul Penerimaan Negara di retail BACA JUGA:Kembali Digelar, Bazar UMKM BRILiaN Bantu Berdayakan dan Perluas Pasar Pelaku Usaha Manfaat ketiga adalah administrasi perpajakan menjadi lebih efisien, mengingat PPN lebih mudah ditarik karena tercatat dalam semua transaksi ekonomi, terutama yang berkaitan dengan konsumsi. Manfaat keempat, dengan kenaikan tarif menjadi 12 persen, PPN Indonesia akan sebanding dengan rata-rata global (15 persen) dan ASEAN, membuat sistem pajak Indonesia lebih menarik bagi investor. Manfaat terakhir, peningkatan penerimaan pajak dapat berkontribusi pada Visi Indonesia 2045 dalam jangka panjang, yang bertujuan untuk menjadikan negara maju dan salah satu dari lima ekonomi terbesar di dunia. “Sebaliknya, jika kebijakan kenaikan PPN tidak diterapkan, akan ada beberapa konsekuensi,” tambahnya. BACA JUGA:BRI UMKM Expo(RT) 2025, Ajang Digitalisasi dan Ekspansi Pasar Global UMKM, Buruan Daftar !!! BACA JUGA:Tanpa Kartu, Bisa Setor Tunai dengan BRImo Pertama, pemerintah akan kehilangan potensi pendapatan tambahan, yang dapat memperbesar defisit anggaran dan membatasi ruang fiskal untuk belanja produktif. Kedua, pembangunan infrastruktur, program sosial, dan investasi strategis lainnya dapat terhambat jika penerimaan negara tidak cukup untuk mendanai kebutuhan tersebut. Hal itu juga dapat menyebabkan beban utang pemerintah dan risiko fiskal jangka panjang meningkat karena pemerintah mungkin harus lebih bergantung pada pinjaman untuk menutup defisit. Terakhir, reformasi pajak yang tidak progresif dapat memperlambat perbaikan struktur fiskal dan membuat Indonesia kurang kompetitif di wilayah tersebut.Ekonom Jabarkan 5 Manfaat Pertambahan Tarif PPN 1 Persen
Kamis 21-11-2024,19:56 WIB
Editor : Dede Sandi Mulyadi
Kategori :
Terkait
Rabu 04-02-2026,18:00 WIB
Bapenda Cianjur Siapkan Strategi Dongkrak Pendapatan Daerah Tahun 2026
Senin 02-02-2026,21:00 WIB
Dana Desa Menyusut, DPMD Cianjur: Pemdes Harus Perkuat PADes
Selasa 20-01-2026,22:38 WIB
DPMD Cianjur Pastikan Dana Desa 2026 Dipangkas
Selasa 20-01-2026,19:21 WIB
Atlet Paralympic Cianjur Terancam Gagal Ikuti Peparda Jabar 2026
Rabu 14-01-2026,17:58 WIB
Pemdes Cibadak Cianjur Arahkan APBDes 2026 pada Program Nonfisik
Terpopuler
Rabu 04-02-2026,12:00 WIB
Kemenperin Tegaskan Penerbitan Pertek Impor TPT Sudah Sesuai Prinsip Good Governance
Rabu 04-02-2026,05:22 WIB
Bapenda Jabar Siapkan Sejumlah Program Unggulan Kejar Target PAD 2026
Rabu 04-02-2026,11:00 WIB
Indonesia Tegaskan Strategi Mengubah Volatilitas Global Menjadi Momentum Pertumbuhan Inklusif
Rabu 04-02-2026,06:30 WIB
Sekjen: Kemenag Serius Benahi Tata Kelola dan Sejahterakan Guru
Rabu 04-02-2026,12:30 WIB
Gandeng Startup, Kemenperin Perluas Akses Kerja Penyandang Disabilitas di Industri
Terkini
Rabu 04-02-2026,21:00 WIB
Awal 2026, Bapenda Cianjur Tertibkan 125 Reklame di Lima Kecamatan
Rabu 04-02-2026,20:30 WIB
Kemenhaj Cianjur Prioritaskan Pelayanan dan Hospitality Jemaah Haji
Rabu 04-02-2026,20:00 WIB
Bupati Cianjur Resmikan Gedung PONEK RSUD Pagelaran
Rabu 04-02-2026,19:30 WIB
PMI Asal Cianjur Sakit, Keluarga Minta KDM Bantu Pulang
Rabu 04-02-2026,19:00 WIB