Banner Disway Award 2025

Pemerintah Perkuat Dukungan Pendidikan 3T

Pemerintah Perkuat Dukungan Pendidikan 3T

Pemerintah Perkuat Dukungan Pendidikan 3T.(kemendikdasmen.go.id)--

CIANJUREKSPRES.DISWAY.ID - Pemerintah terus memperkuat kehadiran negara dalam mendorong transformasi pendidikan di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Dukungan tersebut tidak hanya menyasar peningkatan kompetensi guru, tetapi juga pemerataan fasilitas dan akses teknologi pembelajaran. Upaya tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun sumber daya manusia unggul dari seluruh pelosok negeri.

Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru, Nunuk Suryani, menegaskan bahwa praktik baik para guru di wilayah 3T menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang menghadirkan pembelajaran bermakna. 

“Cerita praktik baik dari para guru menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Pemerintah akan terus memastikan dukungan yang lebih merata, mulai dari peningkatan kompetensi, penguatan distribusi guru, serta dukungan teknologi pembelajaran seperti Papan Interaktif Digital dan akses internet yang semakin luas,” ujar Nunuk.

BACA JUGA:Pemerintah Pastikan Perjanjian RI–AS Tetap Berproses Pascaputusan Supreme Court AS

BACA JUGA:Perpanjangan Kontrak Migas dan Tambang, Kepemilikan dan Penerimaan Negara Diproyeksikan Meningkat

BACA JUGA:Kemnaker Siapkan Penguatan Hubungan Industrial 2026: Kerja Tenang, Usaha Pasti

Sebagai bentuk keberpihakan nyata, pemerintah terus menyalurkan Tunjangan Khusus Guru (TKG) bagi pendidik di daerah 3T. Pada tahun 2025, tercatat sebanyak 43.393 guru menerima TKG dengan total anggaran yang disalurkan mencapai Rp636.710.771.290. Setiap guru penerima memperoleh tunjangan sebesar Rp2 juta per bulan. 

Komitmen tersebut sejalan dengan semangat para pendidik di lapangan, salah satunya guru matematika di SMAS Ilmanah, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara, Risky Jalil. Sejak 2024, ia mengabdikan diri di wilayah 3T dengan berbagai dinamika dan tantangan. Ia mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam proses pembelajaran tidak hanya berkaitan dengan fasilitas, tetapi juga akses menuju sekolah. 

“Tantangan terbesar dalam proses pembelajaran di wilayah tersebut adalah transportasi menuju sekolah terutama saat cuaca buruk seperti keras ombak. Fasilitas belajar seperti buku, dan jaringan internet juga terbatas. Selain itu, kemampuan literasi dasar sebagian murid masih rendah, sehingga proses pembelajaran membutuhkan waktu lebih lama,” ungkapnya.

Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, dukungan pemerintah dan berbagai pihak menjadi penguat bagi guru untuk terus berinovasi. Risky menyampaikan bahwa keterbatasan alat peraga dan teknologi tidak menghalanginya untuk tetap kreatif dalam mengajarkan Matematika. 

“Khusus untuk pembelajaran matematika saya sering berinovasi dengan memanfaatkan benda-benda di sekitar karena keterbatasan alat peraga dan teknologi. Misalnya, untuk mengajarkan operasi hitung dasar, saya menggunakan batu sebagai alat bantu konkret agar murid lebih mudah memahami konsep penjumlahan dan pengurangan,” ucap Risky.

Dalam membangun motivasi belajar, ia menekankan pentingnya kedekatan emosional dengan murid sebagai bagian dari penguatan ekosistem pendidikan. 

“Cara saya dalam membangun motivasi belajar murid di tengah berbagai keterbatasan adalah saya berusaha membangun hubungan yang dekat dengan murid, memahami latar belakang mereka, dan memberi apresiasi sekecil apa pun pencapaian mereka. Saya sering mengaitkan pelajaran dengan cita-cita mereka, memberikan pujian dan perhatian secara konsisten sangat membantu meningkatkan rasa percaya diri mereka,” tambahnya.

Ia pun menyampaikan harapannya terhadap masa depan pendidikan di wilayah 3T. 

Sumber: